COMPLICATED…
AN ONE
OK ROCK FANFICTION
CAST :
§
ONE OK ROCK MEMBERS :
-
TAKAHIRO MORITA AS TAKA
-
TORU YAMASHITA AS
TORU
-
RYOTA KOHAMA
AS
RYOTA
-
TOMOYA KANKI
AS TOMO
§
ORIGINAL CHARACTER :
-
SHINJIO YASU
AS SHINJI
-
AKANE GENA
AS GENA
-
DAICHI AKIHIKO
AS DAI
-
YASUHIRO TETSUYA AS TETSU
SUMMARY
:
“
Moshimo konomama kimi wo wasureru koto ga de ki tara….
“ Nante
omoeba omou hodo ni…..
Kimi wo wasureru koto nante boku ni wa de ki ru hazu mo nakute ….
Kimi wo wasureru koto nante boku ni wa de ki ru hazu mo nakute ….
—Pierce
“ Ibu pernah bilang padaku, kalau suaraku itu seperi burung pipit yang
kejepit pintu. Konyol memang, karena itu dimaksudkan untuk candaan.
Sebenarnya aku juga tahu, bahwa aku punya suara yang sangat berantakkan.
Mungkin jendela kaca tetangga akan retak saat aku bernyanyi. Dan, aku
memutuskan untuk ‘menyembunyikan’ suaraku.
Aku enggan bernyanyi atau sekedar bersenandung. Aku takut kalau ada orang yang
akan meneriakki ku. Tapi, suatu hari, tiba tiba saja ada seorang pemuda yang
memergokiku bersenandung di dekat konbini dekat rumahku. Dan dia menawariku
sebuah pekerjaan yang sungguh mengejutkan.
“Mau jadi vokalis band-ku?
Hah?
Apa telingaku baik baik saja? “
* * *
WARN :
Cerita Lebay! Summary belum nyambung di chapter pertama XD
TYPO
BETERBANGAN READERS!!
Hepi
Riding!!!
* * *
Chapter
One ~ のメモリ
Tahun ketiga di
SMU. Aku tak mengira akan sesingkat ini. Masuk ke sekolah baru dengan jenjang
yang lebih tinggi. Seragam baru, buku baru dan juga model rambut baru. Aku
masih ingat itu ; saat pertama kali aku menjadi murid di SMU ini.
Seorang gadis menyapaku ramah dan memintaku duduk di sampingnya. Gena Akane,
atau yang lebih suka di panggil Gena itu, adalah teman pertamaku disekolah. Dia
cantik dan pintar. Mudah bergaul dan pandai berias. Tak Cuma itu, dia juga jadi
saingan terberatku di kelas satu dulu.
Yah…memori yang indah.
Mataku menatap papan pengumuman ragu. Ada sesuatu yang terasa mencemaskan di
dalam dadaku. Aku tak tahu apa, tapi rasanya aneh.
Murid murid kelas tiga lain mulai memenuhi depan papan pengumuman yang dipasang
di Aula sekolah. Mereka saling berbisik ; berharap agar nilai ujian masuk
universitasnya tinggi. Begitu pun denganku.
Semalaman aku tak henti hentinya komat kamit di kamar. Berdoa dan terus berdoa
agar aku di terima di universitas faforit. Sampai sampai aku harus merelakan
mataku memerah di pagi harinya karena susah tidur. Konyol.
Setelah mengambil napas panjang, aku melangkah maju. Berusaha membaca daftar
nama pertama di kolom nama siswa. Tak begitu jelas memang, maklumilah tinggi
badanku ini. Yang bias kubaca hanya nama depannya ‘Azuza’. Oh, itu bukan
namaku.
Baris kedua ‘Chiharu’. Namaku diawali oleh huruf ‘S’. aku benar benar yakin itu
bukan namaku.
Dan di barisan ketiga….
“SHINJI!!” Oh kami-sama! Jika aku punya penyakit jantung, mungkin aku akan
tewas di tempat.
“Apa!” bentakku menoleh kebelakang.
Tiga orang remaja berlari kearahku. Dengan seorang gadis yang terus tersenyum
sambil memanggil manggil namaku.
“Shinji! Shinji! Shinji! Shin-“
“Diam, Gena!” seruku jengah “Kenapa kalian lari seperti itu?”
“Kami tak
menemukkanmu di kelas” sahut Daichi, pemuda berambut jabrik yang diwarnai
kuning karat. Biasa di panggil ‘Dai’.
“Biasanya kamu berangkat paling awal ‘kan?” kini gentian Tetsu yang berucap,
Pemuda sopan yang selalu terlihat rapi. 180 derajad berbeda dengan Daichi.
“Sudah lihat papan pengumuman?”
“Um…. Yah…”
“Um…. Yah…”
“Jadi!? Berapa nilai mu?!” Tanya Gena menggebu gebu.
Jari telunjukku menggaruk belakang kepala “Kalian menyela” desisku.
Daichi menggeleng sesaat lalu berjalan mendekati papan pengumuman. Kami bertiga
terdiam memandanginya dari belakang kerumunan. Tiba tiba suara baritonnya
terdengar mengeluarkan ekspresi kaget.
“Ada apa?” tanyaku mendekat.
“Kau….Kau hebat” ia bergumam tanpa menoleh.
“Hebat bagaimana?”
“SHINJI DAPAT PERINGKAT TIGA!!!” Entah kesurupan (?) jin mana, tiba tiba Daichi
berteriak keras. Alisku melengkung kedalam dan segera melihat nama di barisan
nomor 3.
“03. SHINJIO YASU“
Itu namaku….
“Peringkat tiga?” kudengar Gena berbisik tak percaya. Ia melangkah kasar
mendekatiku. Membaca daftar nama sekilas lalu ekspresinya berubah heran.
“Tiga?”
“Wow… tak heran, Shinji kan pintar. Selamat ya, Shinji-chan”
Aku berbalik, menatap Tetsu yang sudah minta ‘disalami’. Kuraih tangannya untuk
berslaman. Sedangkan, Daichi berteriak ‘woohoo’ tak jelas.
“Bagaimana bias?” Gena berdiri berkacak pinggang di sampingku.
Aku tersenyum canggung “Nasib baik…..mungkin?” canggung “…sepertinya” tambahku
menyudahi upacara bersalaman dengan Tetsu.
“Bagaimana denganmu, Gena-chan?”
“Tujuh. Aku peringkat tujuh” aku tahu ekspresi apa yang dimiliki Gena sekarang.
Sejak kelas satu, aku tahu dia orang yang gampang ‘envy’. Dia marah saat aku
dapat melebihi dia. Dan aku tak terlalu mempermasalahkannya.
“Halah” Daichi mengipaskan tangan di depan wajah Gena “Sejak kapan, my liebe* jadi
ngambekkan begini?”
“Tak lucu” Gena mendengus. Membuang muka lalu berjalan kasar menjauhi kami
bertiga yang masih mematung.
“Gila. Bisa didiamkan 2 minggu aku, kalau begini!” ucap Daichi memukul dahinya
“Gena! Ayolah!” dan sepasang kekasih itu saling kejar mengejar. Haha, pasangan
aneh.
“Mereka aneh” desisku menyunggingkan senyum.
“Memang” sahut Tetsu “Kantin?”
“Um….” Aku menatapnya sejenak “Baik! Biar aku yang traktir!”
“Baik, boss!” celetuknya diakhiri tawa kami menuju kantin.
*Liebe = bahasa
german cinta
*
* *
“Silahkan, Shi”
seorang pemuda menaruh dua gelas jus jeruk di depanku.
“Terima kasih, Ren”
balasku dengan senyuman.
Ia ikut tersenyum,
lalu berjalan menjauh. Kutarik salah satu gelas ke depanku dan mendorong gelas
satunya untuk Tetsu.
“Dia masih
berharap” Tetsu berguman sebelum menyedot jusnya.
“Maaf?”
“Renji. Dia
menyukaimu, Bukan?”
Tiba tiba, aku
merasa baru saja tersedak biji jeruk sebesar bola basket. Langsung saja, ku
berikan deathglare terbaik pada Tetsu sialan yang baru kali ini out of
character.
Tetsu tertawa lepas. Benar benar bukan seperti dirinya yang biasanya. “Tidak,
Tidak. Aku hanya menebak. Jangan sewot dulu”
Aku hanya menimpalinya dengan dengusan kasar “Jangan bicarakan hal yang aneh
aneh” ucapku sebelum menyedot habis isi jus di gelasku.
Tetsu tersenyum ramah. Hingga gigi gigi putih rapinya bisa terlihat jelas.
“Hei! Jangan berlarian di kantin!” Kepala kami berdua sontak menoleh. Di dekat
pintu masuk, Renji terlihat menodongkan sebuah wajan ke dua orang yang baru
masuk.
“Daichi” tebak Tetsu yang sialnya benar.
“Shinji~!!” sumpah. Aku ingin tahu, apa ibunya Daichi nyidam petasan saat
mengandung bocah berkelakuan setan itu.
Dan yang mengherankannya lagi. Gena tengah asyik berteriak teriak protes sambil
memukul mukul punggung Daichi. Bagaimana tidak? Gena sedang di gendong
terbalik di atas bahu Daichi. Tipikal penculik yang tengah beroperasi menculik
anak TK.
“Turunkan dia! Berhenti mempermalukkan kami, BakaDai!” kupukul dahi Daichi
dengan garpu yang kutemukan di atas meja. Untung saja, naluri membunuhku sudah
di matikan. Kalau tidak, bisa bisa garpu itu terselimuti cairan merah. Oh
tidak… aku sadis.
“Gomen ne, Shinji~” Daichi menurunkan Gena perlahan yang langsung di sambut
tamparan hangat dari kekasihnya itu.
“BakaDai! Sudah berapa kali aku bilang! Aku bukan kantung beras yang bisa kau
angkat sesukamu!” seru Gena kembali menarik perhatian penghuni kantin dengan
suara melengkingnya. Padahal, beberapa detik yang lalu, mata pengunjung sudah
tak memperhatikan kami. Oh, aku merasa sangat malu. Sungguh.
“Sudah Sudah, jangan bertengkar. Kita santai dulu saja, mumpung Shinji yang
meneraktir” ujar Tetsu dengan nada ke-bapak-annya (?).
Sudut siku siku langsung mencuat di dahiku “What? Meneraktir katamu!”
“Wihh, yang dapat peringkat tiga” goda Daichi seraya duduk, diikuti Gena
“Sepertinya sedang baik hati, nih”
“Baka! Aku tidak! Aku…” protesku panic “Tetsu! Kau …. Awas kau!” seruku
menunjuk ke Tetsu yang menahan tawa.
“Yak! Kau kan dapat nilai bagus, Shinji! Harusnya kau meneraktir kami!” Oh ya,
gadis ini. Benar benar membuatku hipertensi saja.
“Tapi aku tak punya uang! Kau mau aku meneraktirmu tapi hutang?”
“Bukannya Renji itu pacarmu? Anak pemilik kantin itu” ucap Daichi menunjuk
Renji dengan dagu.
“Cukup, Dai! Jangan sampai garpu ini menancap di kepalamu!!” ancamku sangar.
Daichi dan Tetsu tertawa terpingkal, namun tidak dengan Gena yang masih
tersenyum kecut.
“Tetsu-kun” suara lembut itu tiba tiba menginterupsi ritual tawa Tetsu dan
Daichi. Memaksa kepala Kami berempat menoleh pada asal suara.
Dibelakang kursi Tetsu beridir seorang gadis berparas supercute! Jika tak
salah, namanya Ayumi, dari kelas sebelah. Seingatku, dia sangat suka pada
Tetsu. Begitu pun dengan Tetsu, tapi entah kenapa dua orang itu masih belum
meresmikan status pacaran mereka.
“Ya, Ayumi-chan?”
“Um…”
Suiiiitt!!~
“Ciieee!!!” teriakku dan Daichi bersamaan. Memasang ekspresi jahil sambil terus
bersiul dan mengatakan kata ambigu berbunyi ‘ciiiee’.
“Ih, apa apaan kalian ini” tukas Tetsu dengan semu merah samar di pipinya.
“Tetsu Blushing!! Aa!! Kawaiinya!!” teriakku tak jelas sambil meremas
pipi.
Tetsu mendengus “Ayo, Ayumi-chan. Jangan disini” dan pemuda berparas Eropa itu
berlalu dengan Ayumi tanpa memperdulikan siulan Daichi dan aku yang makin
keras.
“Sialan anak itu, di sukai gadis cantik tapi tidak segera pacaran” Daichi
menggeleng prihatin.
Aku berdehem iseng. “Memangnya ‘pacarmu’ tidak cantik?”
Gena terlihat tambah menekuk wajah.
“Eh, tidak kok. Gena-chan cantik. Lebih cantik dari Hotikita Maki…” pujinya “Eh…
mungkin?” tambahnya ragu.
PLAK!
Jika saja aku boleh tertawa terpingkal pingkal di lantai, aku akan melakukannya
saat ini juga. Lihat pipi Daichi! Dua dua nya merah karena tamparan khas Gena
yang terkenal panas!
“Tak Lucu, Dai!” desis Gena.
Okay, ini tak bagus. Perutku sangat sakit menahan tawa.
“Ayolah, Gena. Berhentilah begini”
“Kau menyebalkan…. Bla …bla…bla” gerutu Gena yang aku tak mau dengar.
Dipojok kantin, kulihat Tetsu tengah tertawa renyah dengan Ayumi yang duduk di
depannya. Ada selebaran berwarna menarik mata di tangan Tetsuya. Sesekali Ayumi
menunjuk sesuatu di selebaran itu. Dan Tetsu terlihat tertarik.
“Shinji”
Aku menumpu dagu dengan tangan. Masih memandang kedekatan keduanya di pojok
kantin. Ditemani dua gelas jus … um…itu terlihat hijau… Alpukat mungkin? Yah,
mungkin Alpukat yang hampir habis.
“Shinjio!”
Hahaha… aneh! Saling suka tapi tidak kunjung pacaran. Aku menggeleng sendiri.
“SHINJIO YASU!!!”
“Hah? Hadir!” jawabku gelagapan karena kaget.
Daichi dan Gena menatapku heran dan…jengkel?
“Apa?” tanyaku tanpa dosa.
“Cemburu, eh?” tanya Daichi sok bergaya layaknya detektif.
“Hah!” aku mendengus keras “Kau gila” jawabku kasar lalu menyedot isi jus
jerukku, tapi aku baru sadar kalau isi nya sudah habis.
“Lalu kenapa kau memandangnya begitu? Jangan jangan….” Sambung Gena dengan gaya
yang sama dengan Daichi.
“Jangan apa?” usutku
“Jangan jangan gossip di kelas satu itu benar. Kau suka Tetsu!”
“Gena!” seruku “Kau gila! Aku tak suka Tetsu, kau tahu! Dan sebaiknya kau ingat
itu baik baik, jika kau tak mau ada garpu makan yang menancap di kepalamu!”
ancamku menodongkan garpu yang ada di atas meja ke arahnya.
“Kau sih, Biasa saja memandangnya.” Sahut Daichi.
Aku melengos memandang keluar jendela.
“Hei, ada festifal di taman kota besok Jumat malam” ujar Tetsu yang ternyata
sudah kembali.
“Festifal?” tanya Gena yang sepertinya good-mood-nya sudah kembali.
“Yap! Festifal kembang api” Tetsu mengangguk “Bagaimana kalau kita kesana?”
“Oh benar! Kita jadikan kenang kenangan” timpal Daichi semangat.
“Setuju! Berhubung seminggu lagi kita harus pisah, kita manfaatkan saja
festifal itu jadi memori kenang kenangan!” jelas Gena ikut semangat.
Aku mengangguk “Tak buruk”
“Okay! Sudah di tentukan! Besok Jumat malam jam 7, berkumpul di Café depan SMU”
seru Gena.
“Tapi kembang apinya dimulai jam 9 malam, Gena-chan”
Tiba tiba dahiku berkerut “Sembilan? Itu terlalu larut. Aku tak yakin ibu akan
mengijinkanku keluar”
“Eh?”
“Benar juga, Shinji tak boleh pulang larut” ujar Daichi cemas.
“Lalu?”
“Em… aku bisa minta ijin Ibu, mungkin. Biar aku beri beberapa alasan agar ibu
luluh” ujarku setelah menimbang nimbang.
“Kau yakin?”
“Yap, Dai.” Sahutku
“Baik~! Kita bertemu di Café depan sekolah! Jam 7. Telfon aku kalau kau tidak
bisa datang, Shinji.” Pinta Gena memandangku.
Aku mengangguk dan memamerkan jempol.
“Oh, okay. Sudah jam 11. Managerku bisa marah kalau aku terlambat. Aku pergi
dulu, guys!”
“Ya, hati hati!” ujar Tetsu dan Aku hampir bersamaan.
“Hati hati, Akane” Daichi menepuk nepuk ujung kepala Gena.
“Kau juga” yang langsung dib alas kecupan singkat di dahi Daichi.
Tetsu dan aku sejenak terdiam. Kaget dengan kelakuan Gena yang ‘nekad’.
“Wow…” Tetsu berdesis sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan.
Daichi menoleh dengan gerakkan patah patah. “Dia menciumku!” ujarnya penuh
riang.
“Oh yeah, selamat
atas first kiss itu” ujarku menyalaminya. “Dan, by the way Ayo pulang. Aku tak
mau di anggap anak kelas satu atau dua disini” ujarku seraya bangkit dari
kursi.
“Tetsu, dia
menciumku!!” Daichi berteriak girang sambil meninju udara. Yasuhiro muda
menggeleng heran “Ya, kawan. Kuharap kau tak gila karena ini” lalu berjalan
mengekor di belakangku.
“Hei, apa itu? Itu
bukan semangat!” teriak Daichi yang masih dibelakang.
“Terima kasih,
Renji. Kami pamit dulu” pamitku sebelum keluar kantin.
“Tentu,
Shi.”jawabnya ramah. “Eh, Shinjio!”
Langkahku terhenti
sesaat. “Ya?”
“Ini” disodorkannya
sebuah kotak makan berwarna biru laut dengan gambar ikan koi besar “Kenang
kenangan dariku, kuharap kau menghabiskannya”
Aku mendongak
menatapnya “Terima kasih! Aku akan menghabiskanya!” seruku senang. “Sekali lagi
terima kasih, Ren”
“Tentu” ia berdehem
sesaat “Dan kuharap kita masih bisa bertemu” ia tersenyum. “Aku berharap pula”
ujarku mengakhiri percakapan dengannya.
“Apa itu?” tanya
Tetsu saat kami sudah keluar dari kantin.
“Bento” aku
mengangkat bahu “apa lagi?”
“Um....Mungkin sesuatu
yang special?” ia menebak. Jujur, aku tak suka jika dia menebak sesuatu, karena
tebakkannya selalu benar.
“Jangan bercanda”
tukasku menggelengkan kepala.
“Itu mungkin, 'kan!?”
“Hei, Shinji!”
“Aku tak dengar!!~”
seruku menutup telinga setelah memasukkan kotak bento dari Renji ke dalam tas.
Lalu berjalan beberapa langkah di depan Tetsu. Meninggalkan Daichi yang masih
berbinar dengan ciuman pertama Gena.
Chapter
One ~ のメモリ:
End
*
* *
Author Notes :
Hancur dan gaje. Mungkin itu yang pantas buat gambarin ini fanfic -_-
//jedokinpalakedindingrumahtetangga
Haduhh.. gomennasai buat oor'kers yang nunggu Taka n pren nongol, soalnya ini saya ceritain kehidupannya Shinji.
Main Story nya akan fokus pas Shinji masih kelas satu SMA XD
Tunggu ya Readers~
Gomen buat Typo yang nyelip :3
Jaa~!
Tunggu postingan selanjutnya~!
~Laeka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar